KIM Rancakalong

Luqy Lusiano, Representasi Generasi Muda yang Siap Mengabdi untuk Desa Nagarawangi

Admin KIM Rancakalong
Iklan
Luqy Lusiano, Representasi Generasi Muda yang Siap Mengabdi untuk Desa Nagarawangi

NAGARAWANGI — Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Desa Nagarawangi untuk menentukan arah kepemimpinan desa pada masa yang akan datang.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, figur kepala desa tidak lagi hanya dituntut mampu bersosialisasi dan dikenal luas oleh masyarakat. Lebih dari itu, seorang pemimpin desa dituntut memiliki wawasan, kemampuan manajerial, pemahaman terhadap tata kelola pemerintahan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Salah satu sosok dari kalangan muda yang mengambil bagian dalam kontestasi Pilkades Desa Nagarawangi adalah Luqy Lusiano, S.T.Par., M.A.P. Kehadirannya menjadi bagian dari ruang demokrasi desa sekaligus memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam pembangunan dan pemerintahan di tingkat desa.
Latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya menjadi modal yang dapat digunakan untuk memahami bahwa pemerintahan desa saat ini memiliki mekanisme yang semakin kompleks. Desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi telah menjadi bagian penting dari sistem pembangunan daerah dengan berbagai urusan pemerintahan, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan keuangan, hingga pemanfaatan teknologi informasi.
Kepemimpinan Desa di Era Digital
Perubahan zaman telah mengubah cara pemerintahan bekerja. Digitalisasi tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat desa. Administrasi, pelayanan publik, pengelolaan informasi, komunikasi pemerintahan hingga transparansi pembangunan semakin membutuhkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi.
Bahkan Pemerintah Kabupaten Sumedang pada Oktober 2026 menegaskan bahwa pelaksanaan Pilkades secara digital merupakan bagian dari transformasi digital. Pemerintah desa juga didorong untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui proses belajar, berlatih dan membiasakan diri. (Pemerintah Kabupaten Sumedang)
Dalam konteks tersebut, masyarakat memiliki ruang untuk melihat calon kepala desa bukan hanya dari seberapa populer namanya, tetapi juga dari gagasan, kemampuan memahami persoalan desa, pengalaman, pendidikan, integritas, serta kesiapan mengelola pemerintahan secara profesional.
Kepala desa ke depan akan berhadapan dengan masyarakat yang semakin kritis dan kebutuhan pembangunan yang semakin beragam. Karena itu, kemampuan membaca perubahan menjadi salah satu bagian penting dalam kepemimpinan desa.
Bukan Sekadar Popularitas
Popularitas memang dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang calon dalam kontestasi politik desa. Namun, popularitas bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan kualitas kepemimpinan.
Masyarakat memiliki hak untuk mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan pilihan, termasuk bagaimana seorang calon memahami persoalan desa, bagaimana gagasannya terhadap pembangunan, bagaimana kemampuannya mengelola pemerintahan, serta bagaimana ia melihat masa depan generasi muda.
Luqy Lusianos sebelumnya menyampaikan pandangan bahwa generasi muda yang kritis dibutuhkan dalam sebuah kepemimpinan. Menurutnya, kritik yang disampaikan berdasarkan pemikiran dan kepedulian terhadap masyarakat dapat menjadi energi positif bagi pemerintahan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi karena pembangunan desa tidak mungkin hanya dilakukan oleh kepala desa atau pemerintah desa semata.
Pandangan tersebut menempatkan generasi muda bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pemerintahan dan pembangunan desa.
Generasi Muda dan Tantangan Nagarawangi
Nagarawangi merupakan salah satu dari 10 desa yang berada di Kecamatan Rancakalong.
Ke depan, tantangan desa akan semakin beragam. Pengembangan ekonomi masyarakat, pemberdayaan pemuda, penguatan UMKM, pelayanan publik, keterbukaan informasi, pembangunan infrastruktur, pengelolaan potensi desa hingga pengembangan pariwisata dan kebudayaan membutuhkan kepemimpinan yang mampu bekerja secara kolaboratif.
Di sinilah ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kapasitasnya.
Generasi muda memiliki kedekatan dengan teknologi, lebih terbiasa dengan perubahan informasi dan memiliki peluang untuk menghadirkan pendekatan baru dalam tata kelola pemerintahan. Namun, kemampuan tersebut tetap harus berjalan bersama pengalaman, kearifan lokal, komunikasi dengan masyarakat dan pemahaman terhadap aturan pemerintahan desa.
Kepemimpinan desa pada akhirnya bukan persoalan usia semata.
Yang muda tidak otomatis lebih baik, begitu pula yang lebih tua tidak otomatis lebih mampu. Ukuran kepemimpinan harus dikembalikan kepada kapasitas, integritas, gagasan, pengalaman, kemampuan bekerja dan kesiapan mengemban amanah masyarakat.
Pilkades sebagai Ruang Menentukan Masa Depan Desa
Pilkades bukan sekadar pergantian kepala desa. Di dalamnya terdapat harapan masyarakat terhadap masa depan desanya.
Karena itu, masyarakat Nagarawangi memiliki kesempatan untuk mencermati setiap calon secara objektif. Visi, misi, program, pengalaman, kemampuan memahami pemerintahan serta komitmen terhadap masyarakat menjadi bagian penting yang layak diperhatikan.
Luqy Lusiano, S.T.Par., M.A.P. hadir sebagai salah satu calon dari generasi muda yang menawarkan dirinya untuk mengambil bagian dalam proses tersebut.
Apakah gagasan generasi muda dapat menjawab kebutuhan Desa Nagarawangi? Jawabannya tentu akan sangat bergantung pada gagasan yang ditawarkan, kemampuan menjalankannya serta penilaian masyarakat melalui proses demokrasi.
Yang terpenting, Pilkades Nagarawangi dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk semakin dewasa dalam menentukan pilihan.
Sebab desa di masa depan membutuhkan pemimpin yang bukan hanya dikenal, tetapi juga memahami.
Bukan hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu bekerja.
Bukan hanya memahami kondisi hari ini, tetapi juga mampu membaca tantangan masa depan.
Dan bukan hanya menjadi pemimpin ketika mendapatkan jabatan, tetapi mampu menempatkan kepemimpinan sebagai amanah untuk mengabdi kepada masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan Desa Nagarawangi adalah milik seluruh masyarakatnya. Pilihan politik boleh berbeda, tetapi persaudaraan dan kepentingan desa harus tetap menjadi yang utama.
Berbeda pilihan bukan berarti berbeda tujuan. Karena pada akhirnya, semua berharap Nagarawangi tumbuh, maju dan mampu menghadapi perubahan zaman.
(Ganda Muhtar)

Iklan

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...