Ubi Rancakalong Menembus Nusantara: Kualitas Terbaik yang Semakin Diburu Pasar
Di wilayah pegunungan yang sejuk di Kecamatan Rancakalong, komoditas ubi jalar telah lama menjadi salah satu hasil pertanian unggulan masyarakat. Namun di pasaran, ubi tersebut lebih dikenal luas dengan sebutan ubi Cilembu. Padahal menurut para pelaku usaha di Rancakalong, sebagian besar ubi yang beredar dengan nama tersebut justru berasal dari daerah mereka.
Salah seorang pengusaha ubi di Rancakalong, Daning, mengungkapkan bahwa kualitas ubi dari wilayahnya sudah dikenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, menurutnya, distribusi ubi dari Rancakalong kini sudah menjangkau luar pulau Jawa seperti ke Bali dan Lombok.
“Permintaan ubi sekarang sangat banyak. Bahkan pengiriman kami sudah sampai ke Bali dan Lombok,” ujar Daning.
Namun di balik tingginya permintaan tersebut, para pengusaha ubi di Rancakalong kini menghadapi tantangan baru, yaitu kekurangan pasokan. Produksi dari petani lokal belum mampu sepenuhnya memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Menariknya, menurut Daning, para pelanggan memiliki standar yang cukup ketat. Mereka hanya menginginkan ubi yang benar-benar berasal dari Rancakalong. Ketika ditawarkan ubi dari daerah lain sebagai alternatif, sebagian besar pelanggan menolak.
“Pelanggan tidak mau kalau ubi dari luar Rancakalong. Mereka sudah tahu rasanya berbeda,” tambahnya.
Hal ini menjadi bukti bahwa kualitas ubi Rancakalong memang memiliki keunggulan tersendiri. Teksturnya yang lembut, rasa manis alami setelah dipanggang, serta aroma khasnya membuat ubi dari daerah ini menjadi favorit banyak konsumen.
Selama ini, nama Cilembu memang lebih populer sebagai identitas ubi manis dari Sumedang. Namun para pengusaha di Rancakalong berharap masyarakat juga semakin mengetahui bahwa daerah mereka merupakan salah satu sentra utama penghasil ubi berkualitas tersebut.
Dengan tingginya permintaan pasar dan loyalitas pelanggan terhadap produk asli Rancakalong, komoditas ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi petani lokal, tetapi juga menjadi identitas kebanggaan daerah yang terus berkembang dan dikenal hingga berbagai penjuru Nusantara. (Ganda Muhtar)