Terminal Rancakalong, Panggung Ngabuburit Penuh Warna dan Budaya
Suasana sore di Terminal Rancakalong kini tak lagi sekadar riuh kendaraan yang datang dan pergi. Memasuki bulan suci Ramadan, kawasan ini bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup—ajang ngabuburit yang memadukan kekayaan budaya dan geliat ekonomi rakyat.
Menjelang waktu berbuka, masyarakat mulai berdatangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua memenuhi area terminal untuk menikmati suguhan istimewa: pertunjukan seni Kuda Renggong yang tampil memukau di tengah kerumunan warga. Dentuman kendang, lengkingan terompet, dan gerak lincah kuda berhias ornamen warna-warni menjadi magnet tersendiri.
Kuda Renggong, Identitas yang Menghidupkan Senja
Kuda Renggong bukan sekadar tontonan. Kesenian tradisional khas Sumedang ini sarat makna—melambangkan kegagahan, ketangkasan, sekaligus kebersamaan. Di Terminal Rancakalong, pertunjukan ini menjadi daya tarik utama ngabuburit. Warga bukan hanya menunggu azan magrib, tetapi juga merayakan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Sorak sorai penonton dan antusiasme anak-anak yang ingin berfoto bersama kuda hias menciptakan suasana hangat. Ramadan pun terasa lebih meriah tanpa kehilangan nilai religiusnya.
Surga Takjil dan UMKM Lokal
Tak hanya pertunjukan seni, area terminal juga dipenuhi deretan lapak pedagang yang menawarkan aneka kebutuhan takjil. Mulai dari kolak pisang, es buah segar, gorengan hangat, hingga makanan berat siap santap tersedia lengkap. Aroma manis dan gurih bercampur menjadi penanda khas senja Ramadan.
Kehadiran pasar takjil ini menjadi angin segar bagi pelaku UMKM lokal. Ramadan menghadirkan peluang ekonomi yang signifikan, sekaligus menggerakkan roda usaha masyarakat sekitar. Terminal yang biasanya identik dengan mobilitas transportasi, kini menjelma menjadi pusat interaksi sosial dan ekonomi.
Ruang Kebersamaan Masyarakat
Lebih dari sekadar lokasi strategis, Terminal Rancakalong menjadi simbol kolaborasi. Seni budaya, pelaku usaha, dan masyarakat berpadu dalam satu ruang yang sama. Ngabuburit di sini bukan hanya menunggu waktu berbuka, melainkan momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat identitas daerah.
Saat azan magrib berkumandang, warga berbuka bersama dengan sederhana namun penuh kebahagiaan. Terminal Rancakalong pun membuktikan bahwa ruang publik dapat menjadi panggung budaya sekaligus pusat keberkahan Ramadan—tempat tradisi dan kebersamaan bertemu dalam harmoni.(Ganda Muhtar)