SMPN 1 Rancakalong Berperan Aktif Hadapi Perubahan Iklim

Admin KIM Rancakalong
SMPN 1 Rancakalong Berperan Aktif Hadapi Perubahan Iklim

Perubahan iklim saat ini menjadi isu global yang semakin serius dan tidak dapat diabaikan. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu bumi, terjadinya cuaca ekstrem, meningkatnya polusi udara, serta terganggunya keseimbangan ekosistem. Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan pada skala global, tetapi juga mulai memengaruhi kehidupan masyarakat di tingkat lokal, termasuk lingkungan sekolah.

Salah satu faktor utama penyumbang perubahan iklim adalah buruknya pengelolaan sampah. Sampah yang tidak dikelola dengan baik berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya gas metana (CH₄) yang dihasilkan dari tempat pembuangan akhir (TPA) serta karbon dioksida (CO₂) dari aktivitas pembakaran sampah. Di lingkungan sekolah maupun rumah, sampah plastik, cangkang telur, dan sisa bahan organik masih banyak dibuang tanpa proses pengolahan yang tepat.

Dalam konteks tersebut, sekolah memiliki peran yang sangat strategis sebagai pusat pembentukan karakter dan kebiasaan baru yang berwawasan lingkungan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang praktik nyata dalam menciptakan solusi atas permasalahan lingkungan. Melalui pendekatan edukatif dan aksi langsung, sekolah mampu menanamkan kesadaran ekologis sejak dini kepada peserta didik.

Di bawah kepemimpinan Sony Darma Jatnika, SMPN 1 Rancakalong berkomitmen untuk mengambil peran aktif dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui berbagai inovasi pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Tiga gagasan utama yang dikembangkan, yaitu BBM dari sampah plastik, briket dari cangkang telur, dan eco-enzim dari limbah organik, diyakini mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Pemanfaatan sampah plastik non-PET sebagai bahan baku BBM alternatif melalui proses pirolisis bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Sementara itu, pembuatan briket dari cangkang telur menjadi solusi inovatif dalam mengolah limbah dapur menjadi sumber energi ramah lingkungan. Di sisi lain, produksi eco-enzim dari sisa buah dan sayuran dapat mengurangi penggunaan bahan kimia pembersih yang berpotensi mencemari lingkungan dan merusak ekosistem perairan.

Ketiga gagasan tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil produk, tetapi juga menjadi sarana edukasi berkelanjutan. Melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi, pengumpulan bahan baku, proses produksi, uji fungsi, hingga pameran hasil karya, siswa dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan. Proyek ini dirancang agar tidak berhenti sebagai kegiatan lomba semata, melainkan menjadi bagian dari program berkelanjutan sekolah, seperti ekstrakurikuler lingkungan dan program Adiwiyata.

Dengan dibentuknya bank sampah, sistem kolektor bahan baku, serta program monitoring dan evaluasi secara berkala, SMPN 1 Rancakalong menargetkan terwujudnya perubahan perilaku warga sekolah secara nyata. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, menekan emisi karbon, menyediakan produk ramah lingkungan, serta membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...