SENJA YANG TAK PERNAH USAI

Admin KIM Rancakalong
SENJA YANG TAK PERNAH USAI

penulis : Ganda Muhtar

Senja itu turun perlahan di Curug Cijalu, seolah enggan benar-benar pergi. Cahaya jingga menyelinap di antara pepohonan, memantul di butiran air terjun yang jatuh tanpa lelah—seperti perasaan yang tak pernah benar-benar selesai. Di sana, di hadapan gemuruh air dan desir angin, Curug Cijalu menjadi saksi bisu kisah Dion dan Depu.

Dua tangan mereka saling terpaut erat, seakan takut kehilangan hangat yang sama-sama rapuh. Dua pasang mata saling menatap, bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menyelami hati masing-masing—yang penuh retak namun masih berani berharap. Napas Depu terdengar lirih, hampir kalah oleh suara air terjun. Bibir mungilnya bergetar.

“Yank… mau sampai kapan ini berjalan?” Pertanyaan itu sederhana, tapi selalu menusuk dada Dion. Sesak. Kelu. Ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, namun tak pernah menemukan jalan keluar. Di hatinya, sayang dan kenyataan bertabrakan tanpa ampun. Ia sering menyalahkan keadaan—mengapa takdir memilih jalan yang sedemikian kejam?

“Iya, yank…” Dion akhirnya bersuara, pelan namun jujur. “Aku tahu betapa hancurnya perasaanmu dengan situasi seperti sekarang. Tapi aku cuma bisa bilang, jalani aja dulu. Semoga ada solusi yang terbaik.”

Wajah mungil Depu memantulkan seribu rasa yang berkecamuk. Bibirnya yang nungil seakan ingin terus bertanya, ingin menumpahkan semua yang menggenang di dada. Namun ia memilih diam. Ia mengerti—kadang cinta tak butuh jawaban, hanya butuh keberanian untuk menerima konsekuensi. Ini cinta yang terlarang, dan mereka sama-sama tahu risikonya.

Untuk mencairkan suasana, Depu tersenyum manja. Kelakarnya lembut, kemanjaannya sederhana—namun cukup untuk meruntuhkan benteng Dion. Ia menyandarkan kepala di bahu Dion. Dion mengusap rambut pirangnya, lalu mencium kening wajah mungil itu dengan perasaan yang bercampur aduk: bahagia yang singkat, iba yang dalam, dan sayang yang tak tertampung.

Matahari semakin rendah, senja hampir usai. Mereka berdiri, masih berpegangan tangan. Langkah kaki perlahan menjauh dari Curug Cijalu, meninggalkan gema air terjun yang terus mengalir—seperti perasaan yang tak kunjung reda. Hati mereka berkecamuk, dan masa depan terasa kabur.

Mereka tak tahu ke mana langkah ini akan membawa. Yang mereka tahu, senja itu telah mengikat kenangan: tentang cinta yang indah, tentang luka yang tak terucap, dan tentang dua hati yang pernah saling memilih—meski dunia tak pernah sepenuhnya mengizinkan.

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...