Sekilas Profil KTH Benteng Muda Mandiri

Admin KIM Rancakalong
Sekilas Profil KTH Benteng Muda Mandiri

Menjaga Hutan, Merawat Budaya, Menghidupkan Harapan dari Trigona

Di kaki perbukitan Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, tumbuh sebuah gerakan kecil yang bermakna besar bagi pelestarian lingkungan dan budaya. Kelompok Tani Hutan (KTH) Benteng Muda Mandiri hadir bukan sekadar sebagai wadah ekonomi masyarakat, tetapi sebagai ruang edukasi, konservasi, dan penguatan kearifan lokal.

Didirikan secara mandiri pada tahun 2018 oleh Dr. Rony Hidayat Sutisna, S.Sn., M.Pd., KTH Benteng Muda Mandiri lahir dari kepedulian mendalam terhadap kelestarian hutan, mata air, serta keberlangsungan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat desa. Kelompok ini kemudian disahkan melalui SK wilayah dan mendapatkan pembinaan dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 9 (CDK 9).

Seiring perjalanan, KTH Benteng Muda Mandiri memperoleh kepercayaan berbagai pihak. Salah satu program strategis yang pernah dijalankan adalah Program Daya Desa Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Desember 2021, dengan kegiatan unggulan EPMA (Ekspedisi Penyelamatan Mata Air). Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Garuda Nusantara yang dikelola oleh Bunda Ully Sigar Rusady, sebagai mitra sekaligus pelaksana lapangan.

Prestasi pun menghampiri. Pada tahun 2022, KTH Benteng Muda Mandiri meraih Juara III Lomba Wana Lestari Tingkat Provinsi Jawa Barat, mewakili CDK Wilayah 9 Kabupaten Sumedang. Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat ini menjadi bukti bahwa kelompok pemula pun mampu berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian alam. Bagi KTH, penghargaan bukan tujuan utama, melainkan penguat komitmen bahwa menjaga hutan, budaya, dan mata air adalah tanggung jawab bersama.

Sinergi Lingkungan dan Budaya

KTH Benteng Muda Mandiri juga bersinergi dengan INORGA Nasional Walet Basura Nusantara (WBN), sebuah organisasi panahan tradisional Nusantara yang turut didirikan oleh Bunda Ully Sigar Rusady. Dalam organisasi ini, Dr. Rony Hidayat Sutisna menjabat sebagai Kepala Divisi II Pelestarian Lingkungan dan Pelestarian Budaya.

WBN menghimpun berbagai komunitas panahan tradisional dari seluruh Nusantara, seperti Jamparingan, Kasumedangan, dan ragam panah berbahan alami lainnya. Lebih dari sekadar olahraga, WBN mengusung misi pelestarian budaya, sejarah, kearifan lokal, serta nilai-nilai bela negara, persatuan, dan perdamaian. Melalui festival, pelatihan, dan edukasi budaya, WBN menjadi jembatan antara tradisi leluhur dan generasi masa kini. Sinergi ini memperkuat posisi KTH sebagai penggerak pelestarian alam sekaligus budaya.

Awal Berdiri: Menyelamatkan Lebah Trigona

Cikal bakal KTH Benteng Muda Mandiri berangkat dari keprihatinan terhadap semakin menurunnya populasi lebah trigona (stingless bee), khususnya jenis Trigona laeviceps. Lebah ini banyak hidup di rumpun bambu yang kerap ditebang masyarakat untuk kebutuhan ekonomi. Karena dianggap tidak produktif—menghasilkan madu dalam jumlah kecil—keberadaannya sering diabaikan. Sarang lebah kerap dirusak setelah madunya diambil, menyebabkan koloni mati dan ekosistem terganggu.

Melihat kondisi tersebut, beberapa warga yang peduli lingkungan berinisiatif melakukan penyelamatan. Mereka membeli sarang lebah trigona dari para penebang bambu dengan harga Rp80.000–Rp100.000 per koloni, lalu memindahkannya ke sarang buatan berbentuk kotak kayu. Perlahan, puluhan koloni berhasil dikumpulkan dan dibudidayakan.

Meski produksi madu trigona relatif kecil—sekitar 20 ml per koloni per bulan—namun nilai ekonominya tinggi. Dengan jumlah koloni yang cukup, hasil panen menjadi lebih menjanjikan. Madu kemudian dikemas dalam botol 80 ml dan dipasarkan secara mandiri melalui media sosial serta jejaring masyarakat, dengan harga rata-rata Rp50.000 per botol.

Dari sinilah tumbuh kesadaran kolektif bahwa konservasi bisa berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi warga. Pada tahun 2020, kelompok ini resmi memperoleh legalitas melalui SK No. 141/Kep-06/X/DS/2020. Anggota yang awalnya hanya empat orang kini berkembang menjadi lebih dari 20 anggota, melibatkan warga RT 01 dan RT 02 RW 07 Dusun Pasirbenteng.

Hampir setiap rumah kini memiliki satu hingga tiga koloni lebah trigona. Meski skalanya masih kecil, hasilnya mampu menambah penghasilan keluarga sekaligus menjaga keseimbangan alam. KTH Benteng Muda Mandiri pun semakin dikenal, mendapatkan dukungan dari pihak kecamatan hingga tercatat sebagai kelompok binaan Dinas Kehutanan Kabupaten Sumedang.

Membangun Masa Depan Berbasis Kelestarian

Bagi KTH Benteng Muda Mandiri, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama. Melalui budidaya lebah trigona, pelestarian mata air, serta penguatan budaya lokal, kelompok ini membuktikan bahwa pembangunan desa dapat berjalan selaras dengan kelestarian alam.

KTH Benteng Muda Mandiri menjadi contoh nyata bahwa gerakan kecil dari desa mampu memberi dampak besar bagi lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

Susunan Pengurus KTH Benteng Muda Mandiri

Nama KTH : Benteng Muda Mandiri Desa : Nagarawangi Kecamatan : Rancakalong Kabupaten : Sumedang

Pengurus Inti:

  • Penasihat : Adang Sukmansyah, S.Pd.

  • Pembina : Dr. Rony Hidayat Sutisna, S.Sn., M.Pd.

  • Ketua : Deni Triana, S.Pd.

  • Sekretaris : Apud Saepudin

  • Bendahara : Ruhiyat

Seksi-seksi:

  • Pengadaan Saprodi : Trisno

  • Pemasaran Produksi : Asep Ana Karyana

  • Teknologi Budidaya : Paisal Sarif

GM

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...