Sanggar Lugina Rancakalong: Menghidupkan Kembali Keceriaan Tempo Dulu

Admin KIM Rancakalong
Sanggar Lugina Rancakalong: Menghidupkan Kembali Keceriaan Tempo Dulu

Di Kampung Rancakalong, tawa anak-anak kembali menggema dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Sanggar Lugina hadir sebagai ruang kearifan lokal yang menghidupkan kembali suasana tempo dulu saat permainan tradisional menjadi dunia utama anak-anak, jauh sebelum layar gawai mendominasi keseharian.

Di halaman sanggar, anak-anak tampak riang bermain egrang, melatih keseimbangan sekaligus keberanian. Di sudut lain, permainan congkak mengasah kecerdasan, kesabaran, dan kemampuan berhitung secara alami. Sementara itu, sepdur dan permainan rakyat lainnya menghadirkan kebersamaan, kekompakan, dan interaksi sosial yang hangat—sesuatu yang kini mulai langka di tengah derasnya arus teknologi.

Menurut para penggiat Sanggar Lugina, kegiatan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah upaya sadar untuk menumbuhkan tumbuh kembang anak secara sehat. Terlalu sering bermain gawai dikhawatirkan membuat anak-anak kurang bergerak, minim interaksi sosial, dan sulit berkomunikasi secara alami. Melalui permainan tradisional, anak-anak diajak kembali mengenal dunia nyata: saling menyapa, bekerja sama, tertawa, bahkan belajar menerima kalah dan menang.

“Anak-anak butuh ruang untuk bergerak, berinteraksi, dan berimajinasi. Permainan tradisional itu lengkap—ada nilai fisik, mental, sosial, dan budaya,” ujar salah satu pengelola sanggar.

Sanggar Lugina juga menjadi jembatan pewarisan budaya. Di sinilah nilai-nilai lokal Rancakalong ditanamkan sejak dini, agar generasi muda tidak tercerabut dari akarnya. Tanpa ceramah panjang, anak-anak belajar kearifan lewat pengalaman langsung bermain, merasakan, dan menghayati.

Di tengah zaman serba digital, Sanggar Lugina membuktikan bahwa kearifan tempo dulu masih sangat relevan hari ini. Sebuah ikhtiar sederhana namun berdampak besar: mengembalikan senyum anak-anak, menguatkan karakter, dan menjaga budaya tetap hidup di tanah Rancakalong. (Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...