Rancakalong Menuju Panggung Nasional: Audiensi Strategis ke Kemenparekraf RI
Langkah besar kembali ditempuh Kabupaten Sumedang dalam mengakselerasi pengembangan sektor pariwisata. Dalam rangka mendampingi kegiatan audiensi Ibu Sekretaris Kabupaten Sumedang ke Deputi Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata RI di Jakarta, Sekcam Rancakalong, Hendra Purwadhi, S.Sos., M.Si.,turut hadir membawa semangat dan harapan besar bagi kemajuan pariwisata daerah, khususnya Kecamatan Rancakalong.
Audiensi ini menjadi ruang strategis untuk menyampaikan potensi, kesiapan, serta arah pengembangan destinasi wisata Sumedang yang berbasis kearifan lokal, budaya, dan keberlanjutan. Rancakalong, sebagai salah satu wilayah yang kaya akan tradisi buhun, seni budaya, dan lanskap alam yang autentik, kini telah mencatatkan prestasi membanggakan dengan masuk dalam 300 besar Desa Wisata Nasional melalui program JADESTA Kemenpar RI (Jejaring Desa Wisata).
Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan pengakuan atas kerja kolektif masyarakat, pemerintah, serta komunitas lokal dalam menjaga identitas budaya sekaligus mengemasnya menjadi daya tarik wisata yang bernilai. Rancakalong dikenal dengan kekuatan seni tradisi seperti tarawangsa, rengkong, ritual agraris, hingga kearifan masyarakat adat yang masih terpelihara dengan baik.
Dalam kesempatan tersebut, Hendra Purwadhi menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur budaya dan media informasi sebagai pintu masuk promosi daerah. Salah satu gagasan yang terus didorong adalah kehadiran Geotheater Rancakalong sebagai puseur budaya Sunda—ruang edukasi, pertunjukan, dan interpretasi budaya yang mampu mempertemukan nilai tradisi dengan pendekatan modern. Geotheater diharapkan menjadi ikon baru yang merepresentasikan karakter Rancakalong sebagai kawasan budaya yang hidup dan dinamis.
Selain itu, peran digital juga menjadi perhatian penting. Melalui penguatan Website KIM Rancakalong sebagai sarana informasi publik, potensi wisata, agenda budaya, profil UMKM, hingga cerita-cerita lokal dapat diakses lebih luas oleh masyarakat nasional bahkan internasional. Digitalisasi informasi diyakini mampu mempercepat promosi, memperluas jejaring, dan meningkatkan daya tarik kunjungan wisata.
“Harapannya, Rancakalong tidak hanya dikenal di lingkup kabupaten, tetapi mampu menembus skala nasional sebagai destinasi wisata budaya yang unggul, berkarakter, dan berkelanjutan,” ujar Hendra dengan optimisme.
Audiensi ini menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antara pemerintah daerah, kementerian, dan masyarakat terus diperkuat. Dengan dukungan kebijakan, infrastruktur yang memadai, serta konsistensi pelestarian budaya lokal, Rancakalong berpeluang besar tumbuh sebagai model desa wisata berbasis kearifan Sunda yang membanggakan.
Dari ruang pertemuan di Jakarta, semangat itu mengalir kembali ke tanah Rancakalong—menjadi energi baru untuk menata masa depan pariwisata yang tidak hanya mengedepankan keindahan, tetapi juga menjaga jati diri dan warisan leluhur. GM