POHACI
POHACI
Oleh: Dr, Dian Sukmara, M.Pd.
POHACI adalah cara pandang tentang kehidupan yang utuh. Ia menghubungkan politik, kesehatan, budaya, dan bisnis dalam satu napas yang sama: menjaga kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan berkelanjutan. Seperti Pohaci dalam kearifan Sunda yang menjaga padi dan kehidupan, POHACI menjadi pengingat bahwa setiap keputusan manusia—di ruang kuasa, ruang layanan, ruang nilai, dan ruang usaha—selalu berdampak pada manusia dan alam.
Dalam politik, POHACI menempatkan kekuasaan sebagai alat pengayoman, bukan penaklukan. Kebijakan lahir bukan sekadar dari hitung-hitungan kekuatan, tetapi dari nurani. Politik yang berjiwa POHACI adalah politik yang tenang, berpihak pada keselamatan rakyat, menghormati daya dukung alam, dan berani menunda ambisi demi keberlanjutan.
Dalam kesehatan, POHACI memaknai sehat sebagai keseimbangan raga, jiwa, dan lingkungan. Udara bersih, air layak, pangan aman, dan ruang hidup yang manusiawi adalah fondasi kesehatan sejati. POHACI mengingatkan bahwa mencegah lebih mulia daripada mengobati, dan menjaga alam adalah bagian dari menjaga kesehatan publik.
Dalam budaya, POHACI hidup sebagai ingatan kolektif. Nilai gotong royong, rasa hormat pada alam, kesabaran, dan kesederhanaan menjadi kompas moral masyarakat. Budaya tidak hanya diwariskan, tetapi dipraktikkan—menjadi etika bersama dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Dalam bisnis, POHACI menolak pertumbuhan yang rakus. Ia mendorong usaha yang adil, bertanggung jawab, dan berpandangan jauh. Keuntungan tidak dipisahkan dari keselamatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama. Bisnis berjiwa POHACI memahami bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra kehidupan.
POHACI adalah harmoni lintas sektor. Ketika politik beretika, kesehatan dijaga, budaya dihormati, dan bisnis bertanggung jawab, kehidupan tumbuh tanpa kegaduhan. Tenang, cukup, dan berkelanjungan—itulah warisan POHACI bagi generasi hari ini dan esok.
Harmoni lintas sektoral lahir ketika setiap bidang berhenti berjalan sendiri-sendiri dan mulai saling mendengar. Politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan tidak lagi berdiri sebagai kepentingan yang saling meniadakan, melainkan sebagai bagian dari satu ekosistem kehidupan. Di sanalah keseimbangan mulai menemukan bentuknya.
Dalam harmoni lintas sektoral, kebijakan tidak hanya mengejar target, tetapi mempertimbangkan dampak. Pembangunan tidak sekadar tumbuh, tetapi berakar. Kepentingan jangka pendek ditimbang dengan keselamatan jangka panjang. Setiap sektor menyadari batas dan perannya—tidak saling mendominasi, tidak pula saling meniadakan.
Harmoni ini menuntut kerendahan hati: kemampuan untuk berkolaborasi, berbagi ruang, dan menyelaraskan tujuan. Ketika sektor kesehatan berbicara tentang pencegahan, sektor lingkungan menyediakan daya dukungnya. Ketika budaya mengingatkan nilai, sektor ekonomi menumbuhkan usaha dengan etika. Ketika politik mengambil keputusan, ia mendengar suara kehidupan secara utuh.
Pada akhirnya, harmoni lintas sektoral adalah ikhtiar bersama menjaga kehidupan. Bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan tentang bagaimana semua bergerak seirama. Tenang, saling menguatkan, dan berorientasi pada keberlanjutan—itulah fondasi masyarakat yang adil dan masa depan yang layak diwariskan.
Di kaki perbukitan Rancakalong, Pohaci tidak hadir sebagai legenda yang jauh, melainkan sebagai napas yang hidup dalam keseharian. Ia bersemayam di tanah yang dirawat, di air yang dijaga alirannya, dan di tangan-tangan yang bekerja dengan sabar. Dari sanalah Rancakalong mulai bersinar—bukan karena gemerlap, tetapi karena keseimbangannya.
Pohaci mengajarkan Rancakalong untuk tumbuh tanpa kehilangan jati diri. Sawah tetap menjadi ruang kehidupan, hutan dijaga sebagai penyangga, dan budaya dirawat sebagai cahaya yang menuntun arah. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai Pohaci menegaskan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan harmoni.
Rancakalong bersinar karena memilih jalan yang tenang. Pembangunan berjalan seiring dengan kearifan, ekonomi tumbuh dari budaya, dan kehidupan sosial berakar pada gotong royong. Dari hasil bumi yang cukup hingga seni tradisi yang lestari, semua menjadi pantulan cahaya Pohaci—cahaya yang menghidupi, bukan menyilaukan.
Pada akhirnya, Rancakalong Bersinar adalah sinar kehidupan. Ketika manusia menghormati alam, budaya, dan sesama, Pohaci hadir sebagai peneguh: bahwa kesejahteraan sejati lahir dari keseimbangan. Di sanalah Rancakalong bersinar, hari ini dan untuk generasi yang akan datang. BERSINAR (Bersama Sinergi Ngarumat Adat-Tradisi)…