Pizza ala ambu

Admin KIM Rancakalong
Pizza ala ambu

Tahun 1998 menjadi titik awal perjalanan panjang Dadang Romansyah. Di tengah keterbatasan dan semangat bertahan hidup pasca masa-masa sulit negeri ini, Dadang memilih jalan yang tak banyak dilirik orang: menjadi pembuat tungku pizza. Bukan sekadar tungku, tetapi ruang api yang kelak melahirkan rasa, cerita, dan pertemuan banyak manusia.

Berawal dari bengkel sederhana dan peralatan seadanya, Dadang mengasah kepekaan pada tanah liat, batu, dan panas. Api menjadi guru setianya. Ia belajar membaca nyala, memahami tarikan angin, dan menakar suhu dengan insting. Kepiawaiannya tumbuh dari kegigihan, bukan dari bangku sekolah, melainkan dari pengalaman demi pengalaman yang ditempa waktu.

Seiring berjalannya tahun, nama Dadang Romansyah perlahan dikenal. Pesanan datang tak hanya dari kampung halaman, tetapi merambah lintas kota, lintas pulau, hingga hampir seluruh provinsi di Indonesia telah ia jajaki. Dari Sumatra hingga Papua, Dadang membawa keahlian dan kesabarannya, menyesuaikan setiap tungku dengan karakter alam dan budaya setempat.

Namun, Bali menjadi bab penting dalam perjalanannya. Di Pulau Dewata, pesanan tungku pizza datang silih berganti. Restoran, hotel, hingga dapur-dapur kreatif mempercayakan pembuatan tungku kepada tangan Dadang. Ia mampu menjawab kebutuhan pasar yang beragam—mulai dari tungku bernuansa lokal dengan sentuhan tradisi, hingga desain modern yang menyatu dengan arsitektur kontemporer.

Keistimewaan Dadang bukan hanya pada kekuatan konstruksi tungku yang ia buat, tetapi pada filosofi di baliknya. Setiap tungku adalah perpaduan fungsi, estetika, dan jiwa. Ia percaya, tungku yang baik bukan hanya mematangkan adonan pizza, tetapi juga menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan cerita di sekelilingnya.

Kini, setelah puluhan tahun berjalan, Dadang Romansyah bukan sekadar pembuat tungku pizza. Ia adalah pengembara api, perajut tradisi dan modernitas, yang telah menyusuri negeri demi memenuhi kepercayaan para kliennya. Dari bara yang ia nyalakan, lahir bukan hanya pizza, tetapi juga jejak karya yang membara hingga hari ini.(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...