Perempuan di Balik Nyala Budaya Rancakalong
Di tengah semarak pembukaan Ngalaksa di Desa Wisata Rancakalong, satu sosok tampak menyatu dengan denyut tradisi yang hidup: Nenden Siti Nurkholillah, S.Pd. Ia bukan sekadar hadir sebagai tamu atau penonton, melainkan sebagai penggiat seni dan budaya yang selama ini konsisten menjaga nyala warisan leluhur Rancakalong agar tetap bernapas di tengah arus zaman.
Momentum pembukaan Ngalaksa tahun ini terasa istimewa. Selain menjadi ruang syukur masyarakat agraris Rancakalong, Ngalaksa kini telah resmi masuk agenda budaya tahunan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sebuah pengakuan penting bahwa tradisi lokal bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga fondasi masa depan pariwisata dan identitas budaya daerah.
Dalam balutan suasana sakral dan meriah, Nenden tampil dengan keteduhan khas seorang pendidik dan pegiat budaya. Latar belakangnya sebagai S.Pd menjadikan setiap langkah pengabdiannya tidak berhenti pada seremoni, melainkan berorientasi pada edukasi dan regenerasi. Baginya, seni dan budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan nilai yang harus diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya akan tetap hidup jika dipelajari, dipraktikkan, dan dirasakan maknanya,” begitu prinsip yang tercermin dari keterlibatan aktif Nenden dalam berbagai kegiatan seni tradisi di Rancakalong—mulai dari pendampingan, partisipasi acara adat, hingga penguatan peran perempuan dalam ruang budaya.
Pembukaan Ngalaksa di Desa Wisata Rancakalong pun menjadi cermin kolaborasi yang indah: masyarakat adat, penggiat budaya, dan pemerintah daerah berjalan seirama. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Nenden Siti Nurkholillah, S.Pd menegaskan bahwa kekuatan budaya lahir dari orang-orang yang setia merawatnya, bukan hanya merayakannya sesaat.
Di Rancakalong, tradisi bukan sekadar cerita lama. Bersama para penggiat seperti Nenden, budaya terus bergerak—hidup, tumbuh, dan memberi makna bagi Sumedang hari ini dan esok hari.(Ganda Muhtar)