PANGJAJAP RASA PANGHIAP RATU
Sanggar Tari Arimbi kembali menorehkan pesona dalam perhelatan Ekosistem Budaya Kasumedangan yang digelar di Alun-Alun Kabupaten Sumedang. Di ruang terbuka yang menjadi jantung pertemuan warga itu, semangat budaya berpadu dengan antusiasme masyarakat yang tumpah ruah menyaksikan ragam pertunjukan seni tradisi.
Mengusung tema “Pangjajap Rasa Panghiap Ratu”, penampilan Sanggar Tari Arimbi menghadirkan tafsir artistik tentang penghormatan, pengagungan, dan rasa bakti kepada pemimpin sebagai simbol kebijaksanaan dan pengayoman. Tema tersebut tidak sekadar menjadi judul pertunjukan, tetapi menjelma dalam setiap gerak tangan, sorot mata, hingga irama langkah para penari yang sarat makna filosofis.
Balutan busana tradisional dengan detail warna-warna anggun memperkuat nuansa kebesaran khas Tatar Sunda. Alunan musik pengiring yang lembut namun tegas mengantar setiap fragmen tarian, menggambarkan perjalanan rasa dari penghormatan menuju penghayatan. Penonton dibuat larut dalam suasana sakral yang tetap terasa hangat dan membumi.
Ekosistem Budaya Kasumedangan sendiri menjadi ruang apresiasi sekaligus penguatan identitas lokal. Di tengah arus modernitas, panggung ini menghadirkan kembali nilai-nilai adiluhung budaya Sumedang agar tetap hidup, dikenal, dan dicintai generasi muda. Kehadiran Sanggar Tari Arimbi menjadi bukti bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan, melainkan napas yang terus mengalir dalam kehidupan masyarakat.
Dengan konsistensi dan dedikasi para pelatih serta penarinya, Sanggar Tari Arimbi tak hanya tampil sebagai pengisi acara, tetapi juga sebagai duta budaya yang menjaga marwah Kasumedangan. Tepuk tangan panjang yang menggema di Alun-Alun menjadi penanda bahwa seni tradisi masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Melalui “Pangjajap Rasa Panghiap Ratu”, Sanggar Tari Arimbi kembali menegaskan komitmennya: merawat budaya, menghidupkan makna, dan menanamkan kebanggaan akan jati diri Sumedang di setiap langkah gerak yang ditampilkan.(Ganda Muhtar)