Momentum Kondusif Kedatangan Dedi Mulyadi di Sumedang
Sambutan Hangat Bupati dan Wakil Bupati dalam Ekosistem Budaya Kasumedangan di Gedung Negara Sumedang
Suasana penuh khidmat dan kehangatan terasa begitu kental saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tiba di Gedung Negara Sumedang dalam rangka menghadiri acara Ekosistem Budaya Kasumedangan. Kedatangannya menjadi momen istimewa yang tidak hanya sarat makna seremonial, tetapi juga mencerminkan sinergi kepemimpinan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sumedang.
Di pelataran Gedung Negara yang bersejarah itu, Gubernur disambut langsung oleh Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, bersama Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila. Jabat tangan hangat dan senyum penuh keakraban menjadi simbol kuat harmonisasi kepemimpinan yang terjalin erat demi kemajuan daerah.
Acara Ekosistem Budaya Kasumedangan sendiri menjadi panggung penting dalam merawat identitas budaya lokal. Nuansa tradisional begitu terasa melalui alunan seni karawitan dan pertunjukan kesenian khas Sumedang yang menyambut rombongan gubernur. Gedung Negara seolah menjadi saksi pertemuan antara tradisi dan komitmen pembangunan yang berakar pada kearifan lokal.
Dalam sambutannya, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai fondasi karakter masyarakat Jawa Barat. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam membangun ekosistem budaya yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mendorong partisipasi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan budaya daerahnya.
Bupati Dony Ahmad Munir menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi menjadi kunci dalam memperkuat posisi Sumedang sebagai pusat budaya Kasumedangan. Ia berharap kehadiran gubernur dapat semakin menguatkan komitmen bersama dalam membangun Sumedang yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya.
Momentum kondusif ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan refleksi dari semangat gotong royong dan keselarasan visi antara pemimpin daerah dan provinsi. Di tengah tantangan zaman yang terus bergerak cepat, budaya menjadi jangkar identitas yang menjaga arah pembangunan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.
Kedatangan Gubernur Jawa Barat di Gedung Negara Sumedang hari itu menjadi simbol bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi energi masa depan—yang dirawat bersama, dalam suasana harmonis dan penuh kebersamaan.(Ganda Muhtar)