Merawat Jati Diri Lewat Panggung Budaya di Geotheater Rancakalong
Riuh tepuk tangan dan semangat generasi muda menggema di Geotheater Rancakalong saat gelaran Ekosistem Budaya Kasumedangan vol 21 kembali digelar. Di ruang terbuka yang menjadi pusat seni budaya Sumedang ini, harmoni tradisi dan kreativitas berpadu dalam satu panggung yang sarat makna: merawat jati diri melalui seni.
Geotheater bukan sekadar tempat pertunjukan. Ia telah menjelma menjadi rumah besar bagi para pelaku budaya, ruang belajar sekaligus ruang ekspresi bagi generasi muda. Pemerintah Kabupaten Sumedang sendiri menegaskan bahwa keberadaan Geotheater memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan seni dan budaya, sekaligus wadah menumbuhkan kreativitas masyarakat, khususnya pelajar.
Pada kesempatan kali ini, panggung budaya diisi oleh ragam talenta muda dari berbagai sekolah. Alunan angklung dari SMP IT Insan Sejahtera membuka suasana dengan nuansa khas Sunda yang menenangkan. Disusul penampilan energik Tanji dari Ganteng Muda Group yang membakar semangat penonton.
Tak kalah memukau, Ufaira dari SDN Citungku, Khaileza dari SDN Pasirlaja, serta Dee Fani dari SDI Al Purqon menampilkan kreativitas seni yang segar dan penuh percaya diri. Dari SMPN 2 Rancakalong, Senam Kreasi hingga penampilan Siti Nursiva, Sri Nuraeni, dan Fera menunjukkan bahwa generasi muda Sumedang tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga mengembangkannya.
Nuansa etnik semakin terasa lewat penampilan Rengganis dari SDN Selaawi dan Hanjuang Beureum dari SDN Cupuwangi, yang menghadirkan sentuhan tradisi dalam balutan modern. Sementara Pangrawit dari Hanjuang Sukma Nagara memperkaya panggung dengan musikalitas yang kental akan nilai-nilai lokal.
Semua rangkaian acara dipandu dengan penuh semangat oleh dua host yang sudah akrab di panggung budaya, Ujang Bedzo dan Nenden. Keduanya sukses menjaga atmosfer tetap hidup, hangat, dan interaktif sepanjang kegiatan berlangsung.
Kehadiran Dony Ahmad Munir bersama jajaran, serta perwakilan Komisi X DPR RI, menjadi bukti nyata dukungan terhadap pelestarian budaya. Dalam berbagai kesempatan, Bupati menegaskan bahwa kegiatan seperti ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya strategis membangun karakter dan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
Ekosistem Budaya Kasumedangan sendiri memang dirancang sebagai gerakan berkelanjutan. Digelar rutin, kegiatan ini menjadi ruang interaksi antara seniman, pelajar, dan masyarakat dalam satu ekosistem budaya yang hidup. Melalui panggung ini, budaya tidak hanya dikenang, tetapi dipraktikkan, dirasakan, dan diwariskan.
Di tengah arus modernisasi, Geotheater Rancakalong berdiri sebagai simbol bahwa budaya Sunda tetap kokoh. Di sinilah, masa lalu, masa kini, dan masa depan bertemu—dalam satu panggung yang tak pernah kehilangan ruhnya.(Ganda Muhtar)