Menyatu dengan Alam dan Tradisi
Dengan mengenakan pakaian khas yang sederhana, Bupati Dony tidak ragu menyingsingkan lengan baju. Di hadapan para petani, tokoh masyarakat, dan tamu undangan, ia memperagakan cara memanen padi menggunakan etem, alat tradisional yang dahulu menjadi andalan para leluhur. Gerakannya perlahan namun pasti, memotong batang demi batang padi dengan kehati-hatian—sebuah simbol penghormatan terhadap alam dan hasil bumi.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali kearifan lokal yang mulai tergeser oleh modernisasi alat pertanian. Di tengah gempuran teknologi, nilai-nilai tradisional justru menjadi identitas yang harus dijaga.
Pesan Kearifan Lokal
Dalam kesempatan tersebut, Dony Ahmad Munir menyampaikan pentingnya menjaga warisan budaya, termasuk dalam sektor pertanian. Menurutnya, penggunaan etem bukan hanya soal teknik panen, tetapi juga filosofi kehidupan—tentang kesabaran, ketelitian, dan rasa syukur.
“Panen dengan etem mengajarkan kita untuk tidak serakah. Kita mengambil secukupnya, dengan penuh rasa hormat terhadap alam,” ujarnya di sela kegiatan.
Edukasi dan Wisata Budaya
Kegiatan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang hadir di Geotheater Rancakalong. Selain menyaksikan praktik langsung, mereka diajak memahami proses panen tradisional yang kini jarang ditemui. Hal ini sekaligus memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata edukasi berbasis budaya dan lingkungan.
Menghidupkan Spirit Gotong Royong
Tak hanya Bupati, para peserta yang hadir pun ikut mencoba menggunakan etem. Suasana kebersamaan terasa kental, mengingatkan pada tradisi panen masa lalu yang selalu dilakukan secara gotong royong. Tawa dan canda mengiringi setiap ayunan etem, menciptakan harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, ada nilai-nilai luhur yang tak boleh dilupakan. Melalui aksi sederhana namun penuh makna ini, Dony Ahmad Munir menunjukkan bahwa pemimpin tidak hanya hadir di balik meja, tetapi juga di tengah masyarakat—merasakan, memahami, dan melestarikan tradisi bersama rakyatnya.
Di Rancakalong, panen bukan sekadar mengambil hasil, tetapi merayakan kehidupan. Dan melalui etem, sebuah alat kecil dari masa lalu, tersimpan harapan besar untuk masa depan budaya yang tetap hidup dan lestari.(Ganda Muhtar)