Memanfaatkan Kearifan Lokal, Abah Jangol Olah Pakan Ternak Tradisional untuk Hadapi Musim Kemarau

Admin KIM Rancakalong
Memanfaatkan Kearifan Lokal, Abah Jangol Olah Pakan Ternak Tradisional untuk Hadapi Musim Kemarau

Rancakalong – Di tengah meningkatnya biaya pakan ternak dan tantangan mencari hijauan saat musim kemarau, seorang peternak kambing asal Kecamatan Rancakalong yang akrab disapa Abah Jangol tetap mempertahankan cara tradisional dalam menyiapkan pakan ternaknya. Metode ini diwarisi dari orang tua terdahulu dan hingga kini masih terbukti efektif.
Pakan tradisional yang dikenal masyarakat setempat sebagai "nyale" dibuat dari campuran rumput, cangkang atau pelepah pisang, serta berbagai jenis dedaunan. Seluruh bahan tersebut dikumpulkan, kemudian dijemur hingga kering agar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Persediaan pakan ini menjadi cadangan ketika musim kemarau tiba dan rumput segar mulai sulit didapatkan.
Menurut Abah Jangol, teknik sederhana ini juga menjadi salah satu cara memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti cangkang atau pelepah pisang. Selain ramah lingkungan, cara tersebut mampu mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan yang harganya relatif mahal.
"Saya hanya meneruskan ilmu dari orang tua dulu. Saat musim hujan kita siapkan pakan, dijemur lalu disimpan. Nanti ketika musim kemarau dan rumput sulit dicari, pakan ini sangat membantu. Pelepah pisang dan dedaunan juga bisa dimanfaatkan sehingga tidak terbuang percuma," ujar Abah Jangol.
Ia menambahkan, dengan menerapkan sistem pakan tradisional tersebut, biaya pemeliharaan ternak dapat ditekan semurah mungkin tanpa mengurangi kebutuhan pakan kambing. Penghematan biaya produksi menjadi salah satu kunci agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan dan memberikan keuntungan.
Kearifan lokal seperti yang dilakukan Abah Jangol menjadi bukti bahwa pengalaman para orang tua terdahulu masih sangat relevan diterapkan hingga saat ini. Di tengah perkembangan teknologi peternakan, metode tradisional yang sederhana, hemat biaya, dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar tetap menjadi solusi bagi para peternak dalam menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat.(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...