Kearifan Buhun Rancakalong: Membajak Sawah dengan Kerbau, Tradisi Lama yang Tetap Menghasilkan
Di tengah derasnya modernisasi pertanian dengan hadirnya traktor dan mesin serba otomatis, masyarakat Rancakalong masih menyimpan sebuah tradisi buhun yang sarat makna: membajak sawah secara manual menggunakan tenaga kerbau. Tradisi ini bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan warisan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun oleh para leluhur.
Proses membajak sawah ini dilakukan dengan sederhana namun penuh ketelatenan. Seekor kerbau dituntun oleh satu orang pengendali yang biasa disebut pamalaku atau juru bajak. Dengan kendali tali dan aba-aba suara, kerbau diarahkan menyusuri petakan sawah yang berlumpur. Langkahnya pelan namun pasti, membalik tanah agar menjadi gembur dan siap ditanami padi. Meski terlihat melelahkan dan memerlukan kesabaran tinggi, ritme kerja antara manusia dan hewan terjalin begitu harmonis, seolah menjadi satu kesatuan gerak yang padu.
Menariknya, metode tradisional ini justru menghasilkan kualitas tanah yang lebih baik. Struktur tanah menjadi lebih alami, tidak terlalu padat seperti akibat mesin berat. Unsur hara tetap terjaga, mikroorganisme tanah hidup subur, dan air lebih mudah meresap. Tak heran jika hasil panen dari sawah yang dibajak secara manual seringkali lebih sehat, padi tumbuh lebih kuat, dan kualitas gabah lebih terjaga.
Lebih dari sekadar hasil pertanian, tradisi ini menyimpan nilai filosofi yang mendalam. Kerbau bukan hanya alat bantu, melainkan mitra kerja yang dihormati. Ada hubungan emosional antara pengendali dan kerbau, dibangun dari kesabaran, kepercayaan, dan kebiasaan harian. Di sinilah tersimpan ajaran tentang keselarasan hidup dengan alam, tidak memaksakan kehendak, serta menghargai setiap makhluk sebagai bagian dari ekosistem.
Tradisi membajak sawah dengan kerbau juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda Rancakalong. Anak-anak dan remaja yang menyaksikan langsung proses ini belajar tentang kerja keras, ketekunan, serta pentingnya menjaga warisan leluhur. Di tengah gempuran teknologi, pengalaman melihat sawah dibajak secara manual menghadirkan pelajaran nyata tentang makna kesederhanaan dan keberlanjutan.
Kini, tradisi buhun ini tidak hanya dipertahankan sebagai aktivitas pertanian, tetapi juga mulai dikenalkan sebagai bagian dari atraksi edukasi budaya dan agroeduwisata. Banyak pengunjung yang tertarik menyaksikan langsung proses membajak sawah dengan kerbau, merasakan suasana pedesaan yang autentik, sekaligus memahami filosofi hidup masyarakat Rancakalong.
Di balik lumpur sawah dan peluh para petani, tersimpan kebijaksanaan lama yang tetap relevan hingga hari ini. Membajak sawah dengan kerbau bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan bukti bahwa kearifan tradisi, ketika dirawat dengan baik, mampu menghasilkan keberkahan yang nyata — baik bagi alam, manusia, maupun keberlanjutan budaya. GM