Kasih yang Tumbuh Bersama Waktu

Admin KIM Rancakalong
Kasih yang Tumbuh Bersama Waktu

Potret Kehidupan Sederhana di Dusun Nangela, Desa Cibunar

Di balik hamparan perbukitan hijau Dusun Nangela, Desa Cibunar, kehidupan berjalan pelan namun penuh makna. Udara sejuk menyelimuti rumah-rumah panggung sederhana, suara burung bersahutan dengan desir angin yang mengelus dedaunan aren dan bambu. Di tempat inilah kearifan lokal Sunda tetap hidup, mengalir dalam keseharian warganya yang menjunjung kesederhanaan, gotong royong, serta rasa hormat terhadap alam.

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan semburat jingga. Seorang kakek tampak berjalan perlahan menyusuri pematang kebun. Di pundaknya tergantung pikulan berisi hasil sadapan aren—air nira yang akan diolah menjadi gula aren, warisan keterampilan turun-temurun warga Nangela. Langkahnya memang tak lagi secepat dulu, namun semangatnya tetap kokoh, sekuat akar pohon aren yang mencengkeram bumi.

Dari kejauhan, seorang nenek menanti di gelodok rumah panggung. Ia membawa selendang tipis dan termos air hangat. Senyumnya merekah begitu melihat sosok yang telah menemaninya puluhan tahun itu mendekat. Tanpa banyak kata, ia membantu memegangkan pikulan, memastikan langkah sang kakek sambil mengusap keringat si kake dengan selendangnya. Sentuhan sederhana itu memancarkan kasih sayang yang tulus—kasih yang tumbuh bukan dari kemewahan, melainkan dari kesetiaan dan kebersamaan dalam menjalani hidup.

Pemandangan kecil ini menjadi cermin nilai-nilai luhur masyarakat Sunda: silih asih, silih asah, silih asuh. Saling menyayangi, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Di Dusun Nangela, cinta tidak selalu diungkapkan lewat kata-kata, tetapi hadir dalam tindakan nyata—menjemput pasangan pulang dari kebun, menyiapkan minuman hangat, berjalan berdampingan menyusuri senja.

Kesederhanaan hidup tidak mengurangi kekayaan makna yang mereka miliki. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh rasa syukur dan kedamaian. Alam diperlakukan sebagai sahabat, bukan sekadar sumber penghidupan. Pohon aren, kebun, air, dan tanah dijaga dengan penuh hormat, karena mereka percaya bahwa keseimbangan alam adalah kunci keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Kisah kakek dan nenek di Dusun Nangela ini bukan sekadar potret romantika usia senja, tetapi pelajaran tentang ketulusan, keteguhan, dan cinta yang setia sampai akhir usia. Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, desa kecil ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari hal-hal paling sederhana: kebersamaan, perhatian, dan rasa saling memiliki.

Dusun Nangela tidak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga kekayaan nilai kehidupan—sebuah warisan budaya Sunda yang patut dirawat dan diceritakan dari generasi ke generasi.

Jika ingin, saya juga bisa menyesuaikan gaya bahasa menjadi lebih puitis, lebih jurnalistik, atau ditambahkan dialog Sunda agar terasa lebih hidup.Ganda Muhtar

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...