Hajat Solokan: Tradisi Buhun yang Menjaga Nadi Kehidupan Sawah
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Desa Pasir Biru tetap teguh memelihara tradisi leluhur yang sarat makna. Salah satunya adalah Hajat Solokan, sebuah tradisi buhun yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur atas keberlangsungan sumber air bagi pertanian.
Solokan, atau saluran air, memiliki peran vital dalam kehidupan masyarakat agraris. Fungsinya sebagai pengalir air ke areal pesawahan menjadikannya sebagai “urat nadi” yang menopang keberhasilan panen para petani. Menyadari pentingnya hal tersebut, masyarakat bersama pemerintah desa secara rutin melaksanakan kegiatan Hajat Solokan sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan Sang Pencipta.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Pasir Biru, Dadan, yang bersama warga masyarakat bergotong royong melaksanakan prosesi adat di sekitar lokasi solokan. Salah satu rangkaian utama dalam tradisi ini adalah penyembelihan kambing, yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air yang terus mengalir dan memberikan kehidupan bagi sawah-sawah warga.
Selain prosesi penyembelihan, kegiatan ini juga menjadi momentum kebersamaan. Warga berkumpul, saling berbagi, dan mempererat tali silaturahmi. Nilai gotong royong begitu terasa, mencerminkan kearifan lokal yang masih hidup dan dijaga dengan penuh kesadaran.
Dalam keterangannya, Kepala Desa Dadan menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya sumber daya air. “Melalui Hajat Solokan, kita diingatkan untuk terus merawat alam dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan,” ujarnya.
Tradisi Hajat Solokan bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga cerminan harmonisasi antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Desa Pasir Biru membuktikan bahwa kearifan lokal tetap relevan dan menjadi pondasi kuat dalam menjaga keseimbangan kehidupan.(Ganda Muhtar)