Enam Titik Longsor Kembali Terjadi di Desa Pangadegan, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Pangadegan — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Desa Pangadegan dalam beberapa hari terakhir kembali memicu bencana longsor di sejumlah titik. Tercatat sedikitnya enam lokasi mengalami pergerakan tanah yang cukup mengkhawatirkan, terutama di area dengan kontur lereng dan tanah labil.
Longsor yang terjadi tidak hanya mengancam lahan pertanian, tetapi juga mulai mendekati akses jalan dan permukiman warga. Beberapa jalur penghubung antar wilayah dilaporkan mengalami gangguan, sehingga aktivitas masyarakat sempat terhambat.
Kepala Desa Pangadegan, Ruhyat Tafsirudin, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama meningkatnya potensi bencana di wilayahnya. Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Cuaca saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Kami mengajak seluruh warga untuk tetap siaga, menghindari daerah rawan longsor, dan segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah,” ujarnya.
Pemerintah desa bersama aparat terkait telah melakukan peninjauan ke sejumlah titik longsor serta melakukan langkah-langkah awal penanganan. Selain itu, koordinasi dengan pihak kecamatan dan instansi terkait terus dilakukan guna mengantisipasi dampak yang lebih luas.
Di tengah situasi ini, semangat gotong royong masyarakat Pangadegan tetap terlihat. Warga bahu-membahu membersihkan material longsor ringan serta memperbaiki saluran air untuk mengurangi risiko genangan yang dapat memperparah kondisi tanah.
Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Dengan kewaspadaan, kepedulian, dan kerja sama yang baik, diharapkan dampak yang lebih besar dapat dihindari, serta keselamatan masyarakat tetap terjaga.