Ekosistem Budaya Kasumedangan Semarakkan Ramadan di Geotheater Rancakalong

Admin KIM Rancakalong
Ekosistem Budaya Kasumedangan Semarakkan Ramadan di Geotheater Rancakalong

Seni Wayang Golek HSN Hidupkan Spirit Tradisi dan Edukasi

Rancakalong – Suasana ngabuburit di bulan suci Ramadan terasa berbeda di Geotheater Rancakalong. Dalam balutan program Ekosistem Budaya Kasumedangan, panggung terbuka yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal itu dipenuhi masyarakat yang antusias menyaksikan pertunjukan seni wayang golek dari Sanggar HSN (Hanjuang Sukma Nagara).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Dr. Dian Sukmara, M.Pd., sebagai bagian dari upaya merawat tradisi sekaligus menjadikan seni budaya sebagai media edukasi karakter bagi generasi muda. Momentum Ramadan dimaknai bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga ruang refleksi budaya yang menyejukkan.

Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, Camat Rancakalong Deni Nurdiani Supandi, unsur Forkopimcam, perwakilan PGRI, para kepala desa, serta kader-kader masyarakat. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah dan pelaku budaya dalam menjaga warisan Kasumedangan.

Seni sebagai Media Pendidikan Karakter

Pertunjukan wayang golek yang dibawakan Sanggar HSN tidak sekadar hiburan. Lakon yang ditampilkan sarat pesan moral tentang kejujuran, kepemimpinan, kesabaran, dan pentingnya menjaga harmoni sosial. Anak-anak dan remaja yang hadir tampak menyimak dengan penuh perhatian, menyerap nilai-nilai yang disampaikan melalui dialog dan alur cerita.

Dr. Dian Sukmara menegaskan bahwa seni tradisi memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter. “Wayang bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Di dalamnya ada filosofi kehidupan yang relevan sepanjang zaman,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah untuk Budaya Lokal

Bupati Sumedang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi komunitas budaya di Rancakalong yang terus menghidupkan ekosistem seni tradisi. Ia menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga penguatan identitas budaya.

“Budaya adalah ruh masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita menjaga jati diri Sumedang sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus,” ungkapnya.

Camat Rancakalong bersama Forkopimcam dan unsur PGRI juga menyambut baik kegiatan tersebut, terutama karena melibatkan pelajar dan masyarakat luas. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menjadikan Geotheater Rancakalong sebagai pusat kegiatan budaya yang berkelanjutan.

Ramadan dan Spirit Kebersamaan

Digelar menjelang waktu berbuka, kegiatan ini menghadirkan suasana religius yang hangat. Masyarakat menikmati pertunjukan sambil menunggu azan magrib, lalu dilanjutkan dengan kebersamaan dalam suasana penuh kekeluargaan.

Ekosistem Budaya Kasumedangan di Geotheater Rancakalong menjadi bukti bahwa tradisi tetap relevan di tengah arus modernisasi. Ramadan pun menjadi momentum tepat untuk merajut nilai spiritual dan budaya dalam satu harmoni.

Di panggung sederhana itu, seni wayang golek kembali menegaskan perannya: menjaga warisan, menguatkan karakter, dan menyatukan masyarakat dalam semangat kebudayaan Kasumedangan.(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...