Duo Pembawa Acara yang Menghidupkan Ekosistem Budaya Kasumedangan

Admin KIM Rancakalong
Duo Pembawa Acara yang Menghidupkan Ekosistem Budaya Kasumedangan

Rancakalong — Setiap hari Sabtu, Geotheater Rancakalong menjelma menjadi ruang hidup bagi denyut kebudayaan Kasumedangan.

Bukan sekadar panggung pertunjukan, tempat ini menjadi titik temu antara tradisi, edukasi, dan hiburan. Di balik kemeriahan yang selalu terasa hangat, ada dua sosok pembawa acara yang konsisten mencuri perhatian: Nenden Siti Nurkholillah, S.Pd dan Ujang Supriatna, yang akrab disapa Ujang Bejo.

Keduanya bukan hanya berperan sebagai pemandu acara, tetapi telah menjadi “jantung suasana” dalam setiap gelaran Ekosistem Budaya Kasumedangan. Dengan gaya yang saling melengkapi, Nenden hadir dengan pembawaan yang anggun, komunikatif, dan edukatif, sementara Ujang Bejo tampil dengan karakter khasnya yang cair, penuh humor, serta dekat dengan keseharian masyarakat.

Kolaborasi ini menghadirkan atmosfer yang unik. Setiap segmen acara terasa hidup—tidak kaku, tidak pula kehilangan esensi nilai budaya. Penonton dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, seniman, pelajar, hingga masyarakat umum, dibuat betah mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir.

Sebagai pendidik, Nenden Siti Nurkholillah, S.Pd piawai merangkai narasi budaya dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadikan setiap pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna dan pengetahuan. Sementara itu, Ujang Bejo dengan spontanitas dan candaan khasnya mampu mencairkan suasana, menjembatani budaya dengan selera generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang dijunjung.

Kehadiran mereka setiap Sabtu di Geotheater Rancakalong telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem budaya itu sendiri. Bukan hanya sebagai pembawa acara, tetapi sebagai penggerak suasana, penjaga ritme, sekaligus penghubung antara tradisi dan publik.

Ekosistem Budaya Kasumedangan pun terasa semakin hidup bukan hanya karena seni yang ditampilkan, tetapi karena cara budaya itu disampaikan: hangat, meriah, dan membumi. Dan di tengah panggung itu, Nenden dan Ujang Bejo terus membuktikan bahwa budaya akan selalu relevan ketika disampaikan dengan hati.(Ganda Muhtar)

Rancakalong — Setiap hari Sabtu, Geotheater Rancakalong menjelma menjadi ruang hidup bagi denyut kebudayaan Kasumedangan.

Bukan sekadar panggung pertunjukan, tempat ini menjadi titik temu antara tradisi, edukasi, dan hiburan. Di balik kemeriahan yang selalu terasa hangat, ada dua sosok pembawa acara yang konsisten mencuri perhatian: Nenden Siti Nurkholillah, dan Ujang Supriatna, yang akrab disapa Ujang Bejo.

Keduanya bukan hanya berperan sebagai pemandu acara, tetapi telah menjadi “jantung suasana” dalam setiap gelaran Ekosistem Budaya Kasumedangan. Dengan gaya yang saling melengkapi, Nenden hadir dengan pembawaan yang anggun, komunikatif, dan edukatif, sementara Ujang Bejo tampil dengan karakter khasnya yang cair, penuh humor, serta dekat dengan keseharian masyarakat.

Kolaborasi ini menghadirkan atmosfer yang unik. Setiap segmen acara terasa hidup—tidak kaku, tidak pula kehilangan esensi nilai budaya. Penonton dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, seniman, pelajar, hingga masyarakat umum, dibuat betah mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir.

Sebagai pendidik, Nenden Siti Nurkholillah, S.Pd piawai merangkai narasi budaya dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadikan setiap pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna dan pengetahuan. Sementara itu, Ujang Bejo dengan spontanitas dan candaan khasnya mampu mencairkan suasana, menjembatani budaya dengan selera generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang dijunjung.

Kehadiran mereka setiap Sabtu di Geotheater Rancakalong telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem budaya itu sendiri. Bukan hanya sebagai pembawa acara, tetapi sebagai penggerak suasana, penjaga ritme, sekaligus penghubung antara tradisi dan publik.

Ekosistem Budaya Kasumedangan pun terasa semakin hidup bukan hanya karena seni yang ditampilkan, tetapi karena cara budaya itu disampaikan: hangat, meriah, dan membumi. Dan di tengah panggung itu, Nenden dan Ujang Bejo terus membuktikan bahwa budaya akan selalu relevan ketika disampaikan dengan hati.(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...