Cerpen SENJA YANG TAK PERNAH USAI

Admin KIM Rancakalong
Cerpen   SENJA YANG TAK PERNAH USAI

penulis : Ganda muhtar

Senja itu, kabut tebal menyelimuti jalanan seperti rahasia yang enggan dibuka. Hening menggantung di udara, hanya terbelah oleh suara mesin sebuah mobil putih yang melaju perlahan, menembus kelam yang dingin. Lampu depan menyorot lurus ke depan, membelah kabut yang seolah ingin menelan segalanya.

Di balik kemudi, pandangan Dion fokus ke jalan. Namun tangan kirinya tak pernah benar-benar pergi—ia menggenggam erat sebuah tangan putih mungil di sampingnya. Tangan Depu. Hangat. Menenangkan. Seolah berkata tanpa suara: aku di sini.

Depu tak pernah kehabisan cerita. Celotehnya yang ringan, kadang konyol, memecah ketegangan perjalanan. Tawanya yang renyah meluncur begitu saja dari bibir mungilnya, membuat Dion ikut tertawa—dan diam-diam menahan rasa gemas yang tak terhingga. Sifat Depu yang manja, kekanak-kanakan, justru menjadi alasan Dion sering kalah. Kalah oleh senyum, oleh tawa, oleh caranya membuat dunia terasa lebih sederhana.

Sesekali, dengan nakalnya, Depu menyandarkan kepala lalu memeluk Dion dari samping. Bahkan mencium pipinya sekilas. Dion pun dibuat gelagapan, jantungnya berdetak tak beraturan. Saat bersama Depu, dunia seperti berhenti—sejuta masalah luruh begitu saja, seolah tak pernah ada.

Tujuan mereka adalah Café Alu, sebuah tempat kecil yang bersembunyi di tengah hutan pinus dan hamparan kebun kopi. Jalan berliku tak terasa panjang. Kabut perlahan menipis, dan akhirnya mereka sampai.

Café itu sunyi, hangat, dan romantis. Tempat yang menyimpan kenangan—tentang tawa, diam, dan rasa yang tumbuh tanpa banyak janji.

“Sore, Mas,” sapa pelayan dengan senyum ramah. “Sore juga. Biasa ya—Vietnam drip sama cemilan,” jawab Dion sambil tersenyum ke arah Depu. Tangannya iseng menyolek dagu si janda cantik itu. Depu hanya tersenyum, lalu memeluk bahu Dion lebih erat. “Apaaa sih, yaaang…” katanya manja, menatap Dion dengan mata yang penuh rasa.

Tatapan itu. Momen itu. Dion benar-benar tak tahan. Ingin rasanya meremas pipi Depu karena gemas, tapi ia hanya mampu mencium keningnya perlahan—sebuah ciuman yang menyimpan lebih banyak makna daripada kata-kata.

Alunan musik Café Alu mengalir pelan, menambah kehangatan sore yang hampir pergi. Tak perlu banyak bicara, pikiran siapa pun yang ada di sana akan melayang, berfantasi tentang cinta yang sederhana namun dalam.

Depu dengan sifatnya yang kolokan, manja, dan cemburuan—kadang membuat Dion salah terus. Namun justru di situlah Dion merasa hidup. Dion yang urakan, tak suka diatur, justru lebih banyak memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena sayang.

Ia mencubit hidung mungil Depu, sengaja agar ia marah. Dan benar saja—wajah cemberut itu muncul. Lucu. Terlalu lucu. Dion tersenyum puas melihatnya.

Mereka berbincang dari hati ke hati, diselingi tawa kecil. Waktu berjalan pelan, lalu tiba-tiba gelap sudah turun. Café akan tutup.

Saat melangkah menuju mobil, raut wajah berubah. Terutama Depu. Perjalanan pulang selalu menjadi bagian yang paling tidak diinginkan. Bukan karena lelah—melainkan karena ujungnya adalah perpisahan, meski hanya sesaat.

Dion akan pulang ke rumahnya. Dan setiap kali itu terjadi, hati Depu selalu terasa teriris.

Di balik kabut malam yang kembali turun, cinta mereka tetap berjalan—pelan, hangat, dan penuh rasa. Seperti senja yang tak pernah benar-benar hilang, hanya bersembunyi, menunggu waktu untuk kembali.

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...