cerpen SENJA YANG TAK PERNAH USAI
Penulis : Ganda muhtar
Senja itu jatuh perlahan, seolah sengaja menunda gelap. Di bawah langit yang memerah, sebuah mobil putih melaju membelah jalanan berliku menuju gunung. Di dalamnya ada Dion dan Depu—sebuah perjalanan yang kelak hanya akan hidup sebagai kenangan, tak pernah utuh menjadi cerita.
Sesekali tangan Dion menggenggam tangan Depu. Jemari mungil itu hangat, menggemaskan, dan terasa akrab. Tatapan mereka beradu singkat, lalu pecah oleh senyum renyah dan canda kecil yang terasa sederhana, namun berbahaya. Dion mengecup punggung tangan Depu—gestur lembut yang diam-diam menyimpan luka.
Depu, dengan sifat manjanya, menyenderkan kepala di bahu Dion. Mobil melaju, senja mengiringi. Lalu, dari bibir mungil itu meluncur sebuah pertanyaan kecil, namun besar maknanya.
“Sayang… sampai kapan kita seperti ini? Apa nggak ada niat untuk menghalalkan aku?”
Dion menatap lurus ke depan. Tangannya tetap di setir. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya bersama asap rokok yang berputar lesu di udara. “Entahlah, sayang… aku juga nggak tahu keputusan apa yang harus kuambil,” katanya pelan. “Kamu tahu, hubungan kita ini sulit. Aku terikat tanggung jawab sebagai suami. Hubungan ini… hanya kita yang tahu. Yang jelas, aku menyayangimu dengan ikhlas.”
Depu terdiam. Tatapannya kosong hampa dan tak puas. Namun di sudut hatinya, ia sadar: Dion punya istri. Ia menelan perasaan itu dalam-dalam, lalu menoleh, menatap Dion. “I love you,” ucapnya lirih.
“I love you too,” jawab Dion. Hanya itu. Tak lebih.
Mobil putih tiba di puncak. Parkiran luas menyambut, rerumputan hijau bergoyang ditiup angin. Pemandangan membentang indah seindah kebohongan yang sering menyamar sebagai kebahagiaan. Mereka turun. Depu mendekat dan memeluk pinggang Dion dari belakang.
“Sayang… aku tahu kamu bingung,” bisiknya. “Tapi aku juga nggak mau kamu pergi. Aku sudah terlanjur mencintaimu.”
Dion berbalik, memegang pundak Depu, menatap wajah cantik itu—bibir mungil, mata yang menyimpan harap. “Aku paham,” katanya. “Kita jalani saja, ya…”
Wajah mereka mendekat. Depu terdiam seribu bahasa. Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir mungilnya. Angin berdesir, burung berkicau, alam seakan ikut menyaksikan—dan diam. Dion memeluk Depu, erat, seakan ingin menghentikan waktu yang tak pernah benar-benar berpihak.
Tiba-tiba langit meredup. Mendung datang tanpa izin. Hujan pun turun. Mereka bergegas masuk ke mobil. Tak lama, mobil putih meluncur menuruni gunung.
Di dalam, suasana jadi tak karuan. Wajah Depu gelisah, seolah menolak pulang. Dion menggenggam tangannya, mengecupnya lembut. “Sayang, kita akan bertemu lagi,” katanya, mencoba menenangkan—atau mungkin menenangkan dirinya sendiri.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Depu. Ia turun dengan langkah berat, menyimpan kecewa karena Dion akan kembali ke rumahnya—ke hidupnya yang lain. Mobil putih kembali melaju, meninggalkan Depu bersama hujan dan perasaan yang tak pernah menemukan jawaban.
Perjalanan pun usai. Dan seperti banyak perjalanan lain, tak semuanya bisa diceritakan.