BUMDesa Sejahtera Pangadegan: Terobosan Usaha Ayam Sayur untuk Kemandirian Desa
Semangat kemandirian desa terus tumbuh di berbagai wilayah, salah satunya melalui peran aktif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di Desa Pangadegan, sebuah langkah strategis dilakukan oleh Adi Bardiansyah selaku Ketua BUMDesa Sejahtera, dengan membuka terobosan usaha berbasis peternakan ayam sayur sebagai upaya memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.
Melalui pemanfaatan 20% dari Dana Desa sebesar Rp 244.186.000,-, BUMDes Pangadegan mengalokasikan anggaran tersebut untuk pembangunan kandang ayam sayur berkapasitas 5.000 ekor. Infrastruktur ini menjadi fondasi utama dalam membangun unit usaha produktif yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pengelolaan risiko dan keberlanjutan usaha.
Menariknya, dalam operasional usaha ini, BUMDes Pangadegan menerapkan skema kerja sama dengan pihak PT sebagai mitra pengelola teknis. Dalam kesepakatan tersebut, BUMDes hanya mengambil keuntungan sebesar Rp 1.000 dari per ekor ayam, sementara seluruh aspek teknis dan kepengurusan operasional lainnya—mulai dari pemeliharaan, pakan, manajemen produksi, hingga pemasaran—diserahkan kepada pihak PT.
Skema ini dipilih sebagai langkah cerdas dan realistis untuk menjaga keamanan usaha BUMDes. Dengan pola kemitraan tersebut, risiko kerugian akibat fluktuasi harga, penyakit ternak, maupun kendala teknis dapat diminimalkan. BUMDes tetap memperoleh pendapatan yang stabil, sekaligus menjaga aset desa agar tetap aman dan produktif.
Adi Bardiansyah menegaskan bahwa tujuan utama terobosan ini bukan semata mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat, melainkan membangun model usaha desa yang sehat, transparan, dan berkelanjutan. Keuntungan yang diperoleh akan kembali digunakan untuk mendukung kegiatan desa, memperkuat pelayanan sosial, serta membuka peluang pengembangan unit usaha baru di masa mendatang.
Lebih jauh, kehadiran unit usaha ayam sayur ini juga membuka peluang multiplier effect bagi masyarakat sekitar, baik dalam bentuk peluang kerja, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, maupun transfer pengetahuan tentang manajemen usaha modern berbasis kemitraan.
BUMDes Pangadegan kini menjadi contoh nyata bahwa inovasi desa tidak harus selalu rumit dan berisiko tinggi. Dengan perencanaan matang, kemitraan strategis, serta tata kelola yang hati-hati, dana desa dapat diolah menjadi aset produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Langkah BUMDes Pangadegan ini menjadi sinyal optimisme bahwa desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal—mandiri, adaptif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. GM