Bukan Karena Disuruh: Cara saya Menumbuhkan Literasi Sejak Dini

Admin KIM Rancakalong
Bukan Karena Disuruh: Cara saya Menumbuhkan Literasi Sejak Dini

Bukan Karena Disuruh: Cara saya Menumbuhkan Literasi Sejak Dini

Oleh : Egi Agustian, M.Pd

Perkembangan peradaban manusia tidak pernah lepas dari satu kata kunci: belajar. Manusia bertahan, beradaptasi, dan menciptakan kemajuan karena kemampuannya untuk terus belajar dari pengalaman. Maka sejatinya, belajar bukanlah aktivitas tambahan dalam hidup, ia adalah bagian alami dari kehidupan itu sendiri.

Hal yang sama berlaku pada anak-anak. Sejak lahir, anak adalah pembelajar alami. Mereka mengamati, meniru, bertanya, mencoba, dan mengulang. Rasa ingin tahu adalah naluri dasar mereka. Sayangnya, dalam praktik keseharian, proses belajar termasuk literasi sering kali direduksi menjadi aktivitas yang dipenuhi perintah, target, dan tekanan.

Sebagai orang tua, saya mulai menyadari satu hal penting: anak sebenarnya belajar setiap hari, bahkan tanpa disuruh. Tantangannya bukan pada apakah anak mau belajar, melainkan bagaimana lingkungan membuat belajar terasa bermakna.

Karena itu, di rumah kami tidak pernah menjadikan literasi sebagai kewajiban yang menakutkan. Tidak ada ancaman, tidak pula hukuman. Membaca tidak ditempatkan sebagai tugas, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari seperti berbincang, bermain, dan bertanya tentang dunia.

Saya tidak ingin anak saya belajar karena takut. Takut dimarahi. Takut nilainya jelek. Takut tidak naik kelas. Saya juga tidak ingin ia belajar hanya demi imbalan. Bukan karena stiker bintang, hadiah, atau pujian semata. Saya ingin ia belajar karena kesadaran.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Dianne Gossen, yang menyebutkan bahwa manusia bertindak karena tiga dorongan utama: menghindari hukuman, mengejar imbalan, dan yang paling bermakna keinginan untuk menjadi pribadi yang ia banggakan sendiri.

Dalam konteks literasi, dua dorongan pertama sering kali mendominasi praktik kita: membaca karena takut dimarahi atau karena ingin dipuji. Padahal, motivasi semacam itu bersifat rapuh dan jangka pendek. Ketika tekanan hilang, kebiasaan pun ikut menghilang.

Sebaliknya, literasi yang tumbuh dari kesadaran diri akan bertahan jauh lebih lama. Itulah sebabnya, sejak dini, saya memilih jalur ketiga: menumbuhkan literasi sebagai kebutuhan, bukan paksaan. Bukan karena tuntutan sekolah, dan bukan pula karena ambisi agar anak cepat bisa membaca, menulis, atau berhitung. Melainkan karena saya ingin ia tumbuh dengan rasa ingin tahu yang sehat.

Peran orang tua dalam proses ini sangat krusial. Bukan sebagai pengawas, melainkan sebagai pendamping. Bukan sekadar menyuruh, tetapi menemani. Bukan hanya memberi instruksi, tetapi memberi contoh.

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat dibanding dari apa yang ia dengar. Ketika anak melihat orang tuanya membaca, berdiskusi, dan menghargai ilmu, pesan tentang pentingnya literasi akan tertanam secara alami. Buku pun tidak lagi terasa asing, melainkan menjadi teman yang akrab.

Tentu, proses ini tidak selalu berjalan mulus. Ada hari-hari ketika anak menolak, merasa bosan, atau kehilangan minat. Di saat seperti inilah kesabaran orang dewasa diuji. Membangun motivasi dari dalam memang membutuhkan waktu, tetapi dampaknya jauh lebih tahan lama.

Hari ini, saya melihat hasil kecil yang sangat berarti. Anak saya mulai mampu menceritakan kembali isi buku yang dibacanya. Ia bertanya, mengaitkan cerita dengan pengalaman, dan membaca tanpa harus disuruh. Ia mulai merasa butuh.

Bagi saya, itulah kemenangan sesungguhnya dalam literasi. Saya tidak tahu kelak ia akan menjadi apa. Namun saya berharap ia tumbuh sebagai manusia pembelajar—yang belajar bukan karena takut, bukan karena hadiah, melainkan karena ia tahu bahwa belajar itu baik, benar, dan berguna bagi hidupnya.

Literasi sejati tidak lahir dari paksaan, tetapi dari keteladanan.

Ia tumbuh pelan-pelan, melalui kebiasaan kecil, suasana yang hangat, dan cinta yang konsisten. Dan semua itu bisa dimulai dari rumah.

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...