Bubur Suro: Seribu Rasa dalam Satu Doa Keselamatan Warga Rancakalong

Admin KIM Rancakalong
Bubur Suro: Seribu Rasa dalam Satu Doa Keselamatan Warga Rancakalong

Di tengah sejuknya alam Rancakalong, tersimpan sebuah tradisi buhun yang hingga kini tetap dijaga dengan penuh hormat dan kebersamaan. Tradisi itu bernama Bubur Suro sebuah hidangan sakral yang bukan sekadar makanan, melainkan simbol doa, keselamatan, dan rasa syukur warga kepada Sang Pencipta.

Bubur Suro dibuat dari aneka bahan pangan yang berasal langsung dari alam sekitar. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, hingga beragam rempah-rempah, semuanya dikumpulkan secara gotong royong oleh masyarakat. Filosofinya jelas: alam memberi kehidupan, dan manusia wajib merawat serta mensyukurinya bersama-sama.

Yang membuat Bubur Suro begitu istimewa adalah jumlah bahan yang digunakan. Konon, bahan makanan yang dikumpulkan bisa mencapai seribu jenis. Angka ini bukan sekadar hitungan matematis, melainkan simbol kelimpahan rezeki dan harapan akan kehidupan yang utuh. Namun jika jumlah tersebut belum terpenuhi, masyarakat menutupnya dengan pisang sewu—pisang dalam jumlah banyak—sebagai pelengkap simbolik agar niat dan doa tetap sempurna.

Tradisi Bubur Suro digelar setiap tahun, biasanya bertepatan dengan momentum bulan Suro, yang oleh masyarakat Sunda dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh perenungan. Dalam prosesi ini, bubur dimasak bersama, didoakan, lalu dibagikan kepada warga. Tak ada sekat sosial, tak ada perbedaan status—semua duduk sejajar dalam satu rasa kebersamaan.

Lebih dari sekadar ritual, Bubur Suro menjadi simbol keselamatan warga Rancakalong. Doa-doa dipanjatkan agar desa dijauhkan dari bala, diberi ketentraman, kesehatan, serta hasil bumi yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak hanya datang dari usaha pribadi, tetapi dari kebersamaan dan kepedulian satu sama lain.

Hingga hari ini, Bubur Suro tetap lestari, diwariskan turun-temurun dari para leluhur kepada generasi muda. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini berdiri teguh sebagai identitas budaya Rancakalong—sebuah warisan buhun yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.GM

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...