Banyu Jatigede: Sinangling Dangiang Rasa – Sagara Tembong Agung

Admin KIM Rancakalong
Banyu Jatigede: Sinangling Dangiang Rasa – Sagara Tembong Agung

Karya: Dr. Dian Sukmara, M.Pd

Lahirnya buku Panglawungan Banyu Jatigede: Sinangling Dangiang Rasa – Sagara Tembong Agung karya Dr. Dian Sukmara, M.Pd menandai satu tonggak penting dalam upaya memaknai Jatigede secara lebih utuh dan mendalam. Jatigede tidak lagi dipandang semata sebagai proyek raksasa infrastruktur pembangunan, melainkan sebagai ruang peradaban yang sarat nilai sejarah, budaya, dan kesadaran kolektif masyarakat Sumedang.

Dalam perspektif buku ini, Banyu Jatigede diposisikan sebagai panglawungan—gerbang pertemuan—antara aliran air, jejak leluhur, serta dinamika sosial yang telah berlangsung lintas generasi. Air bukan sekadar unsur alam yang dibendung dan dialirkan, tetapi menjadi simbol kehidupan, ingatan, dan kesinambungan peradaban. Di sanalah makna Sinangling Dangiang Rasa hadir, sebagai pantulan rasa, spiritualitas, dan kebijaksanaan lokal yang tumbuh dari relasi manusia dengan alamnya.

Konsep Sagara Tembong Agung yang diusung dalam karya ini menempatkan air sebagai samudra makna. Banyu dipahami sebagai penanda peradaban yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu kesatuan reflektif. Jatigede menjadi titik temu antara sejarah leluhur, realitas pembangunan modern, dan harapan generasi mendatang. Ia bukan hanya bendungan, tetapi tembong—penunjuk arah—bagi perjalanan budaya dan identitas masyarakat Sumedang.

Melalui pendekatan reflektif dan kultural, buku ini mengajak pembaca untuk menelaah kembali makna pembangunan. Jatigede tidak sekadar simbol kemajuan fisik, melainkan ruang dialektika antara nilai, rasa, dan kebijaksanaan leluhur yang harus terus dijaga dan dimaknai. Di sinilah pembangunan ditempatkan dalam kerangka kesadaran budaya, bukan semata-mata angka dan capaian teknokratis.

Buku ini diharapkan menjadi rujukan pemikiran sekaligus sumber inspirasi bagi akademisi, budayawan, pemangku kebijakan, serta masyarakat luas. Pesan utamanya jelas: Jatigede harus dipahami sebagai tembong peradaban, penanda arah masa depan yang berakar kuat pada sejarah, nilai budaya, dan kearifan lokal. Dengan cara itulah Banyu Jatigede akan terus hidup, tidak hanya sebagai infrastruktur, tetapi sebagai denyut rasa dan kesadaran kolektif masyarakat Sumedang. GM

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...