SMA Islam Sinar Cendekia Tangerang Selatan Gelar Belajar Kerja Nyata di Desa Cibunar

Admin KIM Rancakalong
SMA Islam Sinar Cendekia Tangerang Selatan Gelar Belajar Kerja Nyata di Desa Cibunar

Rancakalong — Sebanyak 101 siswa SMA Islam Sinar Cendikia, Tangerang Selatan, melaksanakan kegiatan Belajar Kerja Nyata (BKN) di Desa Cibunar, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari 2 malam dengan melibatkan langsung masyarakat setempat.

Kegiatan BKN ini dikelola oleh EO Arimbi Art dan dipusatkan di Wilayah 3 Dusun Garawangi, Desa Cibunar. Untuk memberikan pengalaman hidup bermasyarakat secara langsung, sebanyak 101 siswa ditempatkan dan tersebar di 22 rumah warga yang menjadi induk semang selama kegiatan berlangsung.

Ketua Tim BKN, Junjun Junaedi M.Pd, yang juga merupakan wakil Kepala sekolah bidang kurikulum SMA Islam Sinar Cendekia, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar lingkungan sekolah.
Para siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga belajar berinteraksi, beradaptasi, bergotong royong, serta memahami kehidupan masyarakat secara langsung.

Junjun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Cibunar serta seluruh masyarakat yang telah menerima dan mendukung keberadaan para siswa selama kegiatan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Cibunar dan seluruh masyarakat yang telah menerima kami dengan baik. Mudah-mudahan ke depan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi siswa maupun masyarakat,” ujar Junjun.
Sementara itu, Kepala Desa Cibunar Heni Susilawati menyambut baik pelaksanaan kegiatan BKN tersebut. Menurutnya, kehadiran para siswa menjadi sebuah kesempatan untuk mempererat hubungan antara dunia pendidikan dengan masyarakat desa.

Heni berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada masa mendatang sehingga hubungan kerja sama antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus terjalin.

“Kami menerima kegiatan ini dengan baik. Mudah-mudahan ke depan kegiatan BKN seperti ini bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua pihak,” ungkapnya.
Salah seorang perwakilan induk semang, Wan Ruswanda, turut menyampaikan pengalaman selama menerima para siswa. Rumahnya menjadi salah satu tempat yang dipercaya untuk menampung para peserta BKN selama kegiatan berlangsung.

Menurutnya, kehadiran para siswa memberikan suasana tersendiri bagi masyarakat. Interaksi antara siswa dan warga menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman sosial sekaligus memperkenalkan kehidupan masyarakat pedesaan kepada generasi muda.
Tarawangsa Menjadi Penutup Penuh Makna
Pada rangkaian acara terakhir, kegiatan BKN semakin istimewa dengan ditampilkannya kesenian tradisional Tarawangsa, salah satu kekayaan budaya Sunda yang hidup dan berkembang di wilayah Rancakalong.

Penampilan Tarawangsa menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dari Tangerang Selatan dengan kekayaan budaya lokal Rancakalong. Para siswa tidak hanya melihat sebuah pertunjukan seni, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenal tradisi, nilai, dan kearifan masyarakat Sunda secara lebih dekat.

Tarawangsa seolah menjadi simbol bahwa perjalanan belajar selama berada di Desa Cibunar tidak hanya berbicara tentang kehidupan sosial dan kerja nyata, tetapi juga tentang pentingnya mengenal akar budaya.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dibawa pulang, tetapi juga tentang seberapa dalam seseorang mampu menghargai tempat, masyarakat, dan budaya yang ditemuinya.

Kegiatan BKN tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Desa menjadi ruang belajar yang nyata, tempat siswa memahami arti kebersamaan, tanggung jawab, kemandirian, gotong royong, dan menghargai kehidupan masyarakat.

Melalui pengalaman tinggal bersama warga selama tiga hari dua malam, para siswa diharapkan tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bekal dalam membangun karakter dan kepedulian sosial.
Dan ketika lantunan Tarawangsa menjadi penutup kegiatan, ada pesan sederhana yang tertinggal: ilmu boleh datang dari mana saja, tetapi kebijaksanaan tumbuh ketika seseorang mau hadir, menyimak, menghargai, dan belajar dari kehidupan masyarakat.
(Ganda Muhtar)

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

* Masukkan nama dan email jika Anda belum login.

Memuat komentar...