Ketika Gen-Z Bertanya, Bagaimana Peran Generasi Muda dalam Pemerintahan Desa?
Rancakalong — Pertanyaan tentang sejauh mana generasi muda dapat mengambil peran dalam pemerintahan desa menjadi salah satu isu menarik di tengah perubahan zaman. Generasi Z tidak hanya ingin menjadi penonton, tetapi mulai mempertanyakan bagaimana suara, gagasan, serta sikap kritis mereka dapat ditempatkan dalam pembangunan dan tata kelola pemerintahan.
Hal tersebut menjadi perhatian Zaidan Ihsan Gumilar, S.Kom., yang mempertanyakan peran generasi muda, khususnya kaum muda di Kecamatan Rancakalong, dalam ikut mengawal dan mendorong kemajuan daerah.
Menurut Zaidan, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk berpikir kritis. Sikap kritis bukan berarti selalu menyalahkan pemerintah atau pemimpin, tetapi menjadi bagian dari proses mengawal kebijakan agar pembangunan berjalan sesuai dengan kepentingan masyarakat.
Pertanyaan tersebut kemudian mendapat respons dari Luqy Lusianos, S.T.Par., M.A.P., salah satu calon Kepala Desa Nagarawangi.
Luqy berpandangan bahwa keberadaan anak muda yang kritis justru diperlukan dalam sebuah kepemimpinan. Menurutnya, pemerintahan membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan gagasan, memberikan masukan, bahkan mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
“Mendukung kaum muda untuk kritis itu penting. Dalam sebuah kepemimpinan, kita membutuhkan orang-orang yang kritis supaya roda pemerintahan bisa berjalan dengan benar,” ungkap Luqy.
Baginya, kritik yang disampaikan dengan dasar pemikiran dan kepedulian terhadap masyarakat dapat menjadi energi positif bagi pemerintahan. Pemerintah dan generasi muda tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua kelompok yang berseberangan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling melengkapi.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Dalam menyikapi visi dan misi kepemimpinan, Luqy juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan semua pihak.
Menurutnya, pembangunan desa tidak mungkin dilakukan hanya oleh kepala desa atau pemerintah desa. Ada masyarakat, pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok perempuan, pelaku UMKM, lembaga pendidikan, komunitas, hingga berbagai unsur lainnya yang memiliki potensi dan gagasan.
Karena itu, ruang kolaborasi perlu dibuka seluas-luasnya.
Pemerintahan yang kuat, menurut pandangan Luqy, bukan pemerintahan yang berjalan sendiri, melainkan pemerintahan yang mampu mendengarkan, merangkul, dan menggabungkan berbagai potensi yang ada di masyarakat.
SDM Bukan Sekadar Gelar dan Jabatan
Menariknya, ketika berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM), Luqy memiliki pandangan yang cukup sederhana namun memiliki makna yang luas.
Menurutnya, kualitas seseorang tidak semata-mata dapat diukur dari gelar pendidikan ataupun jabatan yang dimilikinya.
“SDM seseorang tidak terpaku pada gelar ataupun jabatan. Menurut saya, SDM yang baik adalah orang yang bisa bermanfaat untuk orang banyak.”
Sebuah pandangan yang sederhana, tetapi menyentuh persoalan mendasar tentang manusia dan kepemimpinan.
Sebab pada akhirnya, pendidikan, gelar, pengalaman, maupun jabatan merupakan bagian dari perjalanan seseorang. Namun nilai seseorang di tengah masyarakat juga tercermin dari seberapa besar kemampuan dirinya memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Bermanfaat, kritis, mau mendengar, mampu berkolaborasi, dan bersedia bekerja untuk kepentingan bersama menjadi nilai yang kemudian relevan dengan tantangan pemerintahan desa di masa depan.
Gen-Z dan Masa Depan Desa
Pertanyaan Zaidan Ihsan Gumilar menjadi gambaran bahwa generasi muda mulai melihat pemerintahan bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Desa adalah ruang tempat anak muda tumbuh, berkarya, bekerja, dan menentukan masa depannya. Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam pembangunan bukan hanya soal usia, tetapi tentang keberanian mengambil tanggung jawab dan memberikan gagasan.
Kritik yang sehat dapat menjadi pengingat. Kolaborasi dapat menjadi jalan keluar. Dan kebermanfaatan menjadi ukuran sederhana dari sebuah pengabdian.
Di tengah perubahan zaman, desa membutuhkan generasi muda yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga melek persoalan masyarakat.
Sebab masa depan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh seberapa banyak orang yang bersedia ikut berpikir, mengawal, bekerja, dan memberikan manfaat.
Gen-Z bertanya. Pemimpin menjawab. Masyarakat menilai. Dan desa bergerak bersama.
Dangiang Rancakalong — Wajah Digital
(Ganda Muhtar)